Aku hampir menjerit ngeri melihat
perubahan raut wajahnya. Matanya melotot marah, seakan hampir lepas dari
rongganya. Terus terang aku tidak pernah melihat mas Faisal seberang ini.
Kudekap anak perempuan mungilku demi meredakan amarahnya. Dan sepertinya cukup
berhasil. Mas Faisal menarik nafas panjang dan perlahan mengendurkan semua urat
sarafnya yang tegang beberapa menit tadi. Bisa kurasakan debar keras dalam
dadaku pun turut mereda seiring mas Faisal menyandarkan punggungnya ke sofa
ruang tamu kami.
“Saya pergi mengajar dulu, mas,” pamitku
cepat-cepat mumpung dia dalam keadaan gencatan senjata.
“Hm,” hanya dehem kecil dengan serak sisa
kemarahan terdengar lewat bibirnya yang semakin menghitam sebab semakin sering
merokok.
Jemari tangannya memberi isyarat padaku
supaya pergi cepat dari hadapannya sembari matanya tertutup rapat. Aku
beringsut pelan mendekatinya masih dengan anak perempuanku di gendongan. Kucium
penuh takdim punggung tangan mas Faisal sembari hatiku membisikkan permintaan
maaf. Karena jika kusuarakan, pastilah yang kudapatkan justru guntur yang lebih hebat.
Dia mengibaskan tanganku dengan segan.
Tapi aku tak kuasa marah, tak mampu sakit hati. Hanya perih, pedih. Bisa
kurasakan betapa mas Faisal menahan sendiri kemarahannya yang besar kepadaku.
Sesuatu yang aku sendiri mungkin tidak bisa melakukannya. Tetapi ya, kuakui,
mas Faisal adalah salah satu lelaki hebat itu. Yang tidak kuasa menyakiti
wanita, terlebih lagi padaku, istrinya.
Kutinggalkan rumah dengan hati yang rusuh.
Anak perempuanku masih pulas tidur dalam pelukanku. Langkahku terayun gontai
menuju kompleks pesantren mertuaku. Pagi ini aku terpaksa datang sendiri
mengajar ke PAUD yang kurintis bersama mas Faisal karena salah satu guru yang
kami tunjuk berhalangan hadir.
**
“Mbak Alin sakitkah? Kok pucat banget?”
tegur bu Dani, salah satu guru lain. Memang di kelas, meski aku berusaha
bersenang-senang dengan anak-anak didikku, tetapi sebenarnya hatiku masih
terpancang pada kemarahan mas Faisal.
“Memang agak pusing,” aku berusaha
menghindar dari pertanyaan lebih jauh lagi. Tak boleh seorangpun tahu masalah
kami bagaimanapun beratnya.
“Istirahat saja, mbak. Saya yang lanjutkan
ya? Biar dua kelas saya gabung,” bu Dani menawarkan diri dan aku mengangguk.
Kuangkat anak perempuanku yang tadi ikut
asyik bermain dengan anak-anak PAUD lainnya. Dan kubawa ke rumah ibu mertua
yang ada dekat lokasi madrasah.
“Faisal sudah berangkat kerja?” ibu mertua
menyambutku di terasnya dengan pertanyaan yang sudah kuduga sebelumnya.
Anak perempuanku mencium tangan neneknya
dengan tergesa lalu membrosot dari gendonganku dan dengan langkah-langkah
kecilnya masuk ke dalam rumah. Disambut oleh mbak pondok yang sedang piket.
“Tadi belum, bu,” kutekan nada suaraku
agar tidak mencurigakan, sembari mencium punggung tangan mertuaku.
“Oh, pantesan. Biasanya dia selalu ke sini
dan pamit aku dulu tiap kali berangkat kerja,” kalimat ibu mertua ini sudah
kuhafal betul.
Dan memang itulah salah satu kelebihan mas
Faisal. Dia sangat sayang dan menghormati ibunya. Dan seperti itulah dia
mengajarkan padaku tanpa kata, sehingga dengan sendirinya aku menghormati dan
mencintai ibu mertuaku seperti mencintai ibuku sendiri.
Dari ujung gang terlihat motor mas Faisal
mendekat ke teras tempat aku dan ibu
mertua mengobrol di atas lincak.
“Mi, saya nanti mungkin nggak pulang
rumah. Mungkin lembur,” pamit mas Faisal pada ibunya sembari mencium takdim
tangan ibunya.
Glek! Kutelan ludahku, serasa ada yang
tercekat di tenggorokanku. Apakah ini masih terkait dengan kemarahannya barusan
pagi ini.
“Kok lembur-lembur segala kenapa? Kalau
tidak perlu dilembur mbok yo ora usah lembur, kasihan istri anakmu ki lho kalau
di rumah sendirian,” ibu mertua yang juga mengasihiku seperti anaknya sendiri,
memeluk bahuku.
Tapi kangmas Faisal-ku bahkan tidak
menatap wajah dan mataku sama sekali. Masih bisa kurasakan kemarahan itu, tapi
dia tidak tega menyakitiku, betapa pedihnya menahan perasaan yang semacam ini.
“Yo wis,
yo wis. Kalau
memang harus lembur yo ora opo-opo. Nanti malam kamu sama anakmu tidur di sini
saja kalau begitu,” tukas ibu mertua cepat demi melihat mas Faisal tidak
merespon pertanyaannya.
Ah, ibu mertua yang sungguh pandai membaca
gelagat dan bahasa tubuh anak bungsunya. Aku merasa terberkati berada di antara
kedua orang yang kasih mengasihi ini. Namun juga sekaligus waspada. Jangan
sampai karena ketidakpekaanku atas kehalusan budi dan kepandaian menahan emosi
yang mereka miliki, aku jadi mendapat boomerang.
**
“Nggak di situ ya? Aduh jadi di mana nih?”
dengan gusar kututup telpon.
Aku tidak mau menginap lagi di rumah
mertua setelah kemarin sudah bermalam di sana.
Kupikir mas Faisal malam ini pulang dan tidak lembur lagi. kutelpon beberapa
temannya untuk mengetahui keberadaannya tetapi hasilnya nihil. Setelah lelah
semalaman mencoba mencari ke mana-mana dan tidak juga berhasil, akhirnya aku
kelelahan dan tertidur.
Pagi hari saat terbangun, langsung mencoba
menghubungi nomornya lagi seusai sholat subuh. Masih tidak aktif. Menghubungi
teman-temannya lagi, masih tidak terlacak. Aku semakin resah, tapi tidak ingin
membuat ibu mertuaku turut gelisah. Jadi aku bertahan di dalam rumah.
Baru agak siang kemudian baru kulihat lagi
wajah mas Faisal yang kurindukan, kusut dan layu.
“Mas dari mana saja. Semalaman
kucari-cari,” berondongku dengan gaya
khas istri pencemas dan rewel.
“Kamu masih peduli tho sama aku? Aku pikir
aku sudah tidak penting lagi,” ketus jawabannya, tapi tak menembus hatiku yang
penuh rasa sesalan dan dibuntal kerinduan juga cemas semalaman.
“Oh ya, motormu kugadaikan,” dengan nada
tidak merasa bersalah sedikitpun mas Faisal menyampaikan berita tidak
mengenakkan.
“Hah? Kok pakai menggadaikan motor,” aku
melirik ke teras dan baru sadar bahwa dia tadi pulang dengan tidak mengendarai
sepeda motornya sendiri. Entah dengan siapa tadi dia sampai ke rumah.
“Pilihannya cuma itu. Aku kemarin nembung
pinjam uang kamu buat nutup material, tidak kamu kasih. Jadi terpaksa motor
kutitipkan teman selagi aku belum bisa membayar material yang kuangkut ke
proyek,” jelasnya setelah menyruput teh tubruk yang kusiapkan sejak pagi
seperti biasanya.
“Sampai kapan?” sahutku cepat.
“Ya, sampai terminnya turun dan aku bisa
bayar. Wis,
aku kesel, ngantuk,” lalu tanpa mandi ataupun berganti baju, mas Faisal
meninggalkanku yang masih ternganga.
**
“Ini motormu,” aku kali ini dibuat
ternganga lagi karena malamnya mas Faisal sudah datang dengan motor pemberian
ibuku lagi. Yang tadi sesiang masih kusesali kenapa sampai digadaikan.
“Lho kok sudah bisa diambil? Kata mas
tadi….” Belum lagi kuselesaikan
kalimatku, mas Faisal sudah menyambarnya, “ aku ora tego awakmu, nduk. Tadi aku
ngobrol lagi sama temanku dan dia melepaskan agunan ini. Diriku jaminannya,”
ada getar kurasakan dari nada suaranya yang membuat air mataku menitik.
Tidak perlu menunggu ijin, aku menghambur ke dalam
pelukannya. Membenamkan wajahku ke dalam dadanya yang bidang dan luas, seluas
kesabarannya akanku, istri yang tak pernah dia sakiti seberapa pahitpun kadang
aku memperlakukannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar